Tradisi Nyadran/Sadranan Desa Arenan

Setiap bulan syaban sebagian dari masyarakat Desa Arenan masih nguri2 budaya sadranan, banyak terkandung nilai dalam budaya ini, namun semakin berkembangnya jaman budaya ini mulai terkikis oleh budaya dari luar, apalagi stelah perkembangan telekomunikasi yang semakin canggih, budaya silaturahmi semakin berkurang, semoga budaya yang baik ini akan tetap terjaga kelestariannya, pada hari senin besok tanggal 6 Mei 2019 sudah masuk 1 Ramadhan 1440 H, dan budaya sadranan pun berakhir, banyak nilai yang tersembunyi di dalam budaya sadranan yaitu :

Pendidikan Nilai dan Karakter

Dalam Tradisi Sadranan Ritual sadranan memberi dampak yang sangat besar bagi masyarakat Jawa. Karakteristik kuat orang Jawa sangat tampak dalam ritual tahunan tersebut. Tradisi sadranan selain bermakna ritualistik juga syarat akan pendidikan nilai dan karakter. Dalam tradisi sadranan terdapat proses penanaman dan pengembangan nilai-nilai dari seseorang kepada masyarakat, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Sadranan menjadi media internalisasi nilai-nilai agama dan budaya kepada masyarakat. Sadranan memiliki beberapa pendidikan nilai dan karakter yang tinggi, diantaranya:

1. Nilai Religius Masyarakat Jawa terkenal sebagai masyarakat yang religius. Religius maksudnya berhubungan dengan praktek ketuhanan. Masyarakat yang percaya akan adanya kekuatan yang maha dasyat diluar kemampuan manusia. Nilai religius ini juga tampak sangat jelas dalam ritual sadranan. Ritual yang dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur. Do’a merupakan unsur penting dalam pelaksanaan ritual sadranan. Permohonan ampunan dan permohonan surga bagi para leluhur dilakukan dengan tahlilan yang dipimpin oleh ulama setempat. Selain itu, ritual ziarah yang meliputi sadranan, merupakan pengeJawantahan dari nilai religius. Masyarakat Jawa menyadari betul bahwa setiap manusia akan kembali kepada yang Maha Esa.

2. Nilai Syukur Masyarakat Jawa seperti telah diketahui, merupakan masyarakat pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu mempunyai kesadaran akan kewajibannya dalam melakukan pengabdian dan persembahan kepada-Nya. Salah satu bentuk persembahannya yaitu melalui laku syukur. Syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan kepadanya setiap waktu. Sadranan merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat Jawa kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Masyarakat berduyun-duyun mensodaqohkan makanan atau jajanan kepada saat sadranan. Tidak ada paksaan dalam laku ini. Masyarakat dengan suka-rela menyumbangkan sesuatu semampunya untuk orang lain. Masyarakat Jawa sangat mengilhami betul surat Ibrahim Ayat 7, bahwa “….Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Masyarakat Jawa menolak azab yang besar melalui laku sadranan.

3. Nilai Gotong-royong (Rukun) Sikap rukun telah menjadi ciri yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Pelaksanaan sikap rukun dalam kehidupan sosial kemasyarakat lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada pribadi., jauh dari rasa permusuhan, saling tolong menolong dalam kebaikan. Perintah wata’awanu alal birri wattaqwa bagi masyarakat Jawa tidak hanya sekedar di atas kertas, tetapi teraktualisasikan dalam laku sosial, bahkan menjadi kebutuhan sosial masyarakat. Seperti halnya tradisi sadranan di Jawa dirasakan menjadi milik bersama, dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dijiwai oleh rasa kebersamaan saling tolong menolong tanpa rasa perselisihan, merasa saling mengungguli. Oleh karenanya sadranan merupakan perwujudan dari laku rukun masyarakat Jawa.

4. Nilai Saling Menghormati (Pluralisme) Sadranan hakekatnya adalah ziarah kubur. Masyarakat Jawa bersama-sama datang ke makam dalam rangka mendo’akan leluhur atau ahli kuburnya. Tidak ada kekhususan bahwa ziarah dilakukan oleh orang muslim. Semua diperbolehkan melakukan ritual ini, pun dengan non muslim. Melalui laku sadranan, nilai-nilai saling menghormati perbedaan ditanamkan kepada setiap generasi. Di tempat itu, semua orang menjadi satu atas nama persaudaraan. Setelah selesai ziarah, setiap orang yang keluar dari makam salam bersalaman, saling menbarkan kedamaian. Tua kepada yang muda, yang muda kepada yang tua saling berjabat-tangan. Ya, sadranan bagi masyarakat Jawa merupakan perwujudan laku saling menghormati perbedaan atau pluralisme. Sadranan merupakan kearifan lokal masyarakat Jawa yang syarat nilai dan karakter luhur. Tradisi apapun bentuknya jika tidak dijaga dan dilestarikan akan hilang tergerus jaman. Jika bukan manusia sekarang, lalu siapa lagi yang akan menjaga dan mengamalkan tradisi luhur para leluhur kita. di salin dari situs IAINsurakarta.ac.id